Rusunami Pun Salah Sasaran

Rusunami (rumah susun sederhana milik) harusnya diperuntukkan bagi kelompok berpenghasilan maksimal Rp 4,5 juta per bulan yang belum punya tempat tinggal. Sejak awal, hunian jenis ini memang diharapkan jadi solusi bagi warga kota besar. Pemerintah pun memberikan subsidi sehingga harga jualnya tak lebih dari Rp 144 juta per unit.

Tapi, dalam perkembangannya, rusunami malah jadi sebuah instrumen investasi yang menarik bagi para pemilik duit. Warga yang seharusnya berhak memilikinya kalah gesit dibandingkan para pemburu rente ini.

Ketika warga yang berhak membeli masih pikir-pikir apakah pendapatannya cukup untuk menyicil rumah impiannya, orang kaya dengan cepat bereaksi mengeluarkan dananya untuk berinvestasi dengan modal murah. Dalam sekejap, mereka bakal meraup untung.

Mereka bisa membeli apartemen dengan harga murah dan beberapa saat kemudian menjualnya dengan harga tinggi. Bahkan, bisa jadi mereka main mata dengan pihak pengembang untuk kemudian rusuna yang sudah didapat dijual lagi.

Ada rusunami yang belum ditempati atau bahkan belum mulai dibangun bisa dijual lagi dengan harga di atas Rp 200 juta untuk unit berukuran 36 meter persegi. Jauh lebih tinggi dibandingkan harga dasar Rp 144 juta.

Sebenarnya, gejala seperti ini terjadi sejak lama. Sebutlah dalam proyek rumah susun sewa sederhana sewa (rusunawa) di Kemayoran dan Cengkareng. Kini, pemilik rusunawa itu beralih hak sewanya ke pihak lain.

Tak heran jika penjualan rusunami bak kacang goreng. Salah satu faktornya adalah ramainya para investor properti ini. Beberapa apartemen bersubsidi yang dilepas ke pasar seperti Gading Nias Residences di Jakarta Utara, Eastpark di Jakarta Timur, Gateway di Ciledug, dan Taman Modern di Tangerang telah berhasil terjual 88%. Dalam waktu cepat tak lebih dari tiga bulan, hunian jenis ini ludes terjual.

Pada sebuah gelaran penawaran rusunami yang dibangun di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, peminat terpaksa antre. Seorang peminat bisa mem-booking lebih dari dua unit apartemen. Meski pembelian harus dilakukan tanpa perantara, banyak celah bisa dilakukan, termasuk menggunakan jasa joki.

Dalam sebuah riset, Procon Indah mengungkapkan, pembeli rusunami untuk investasi mencapai 20-40% dari keseluruhan pembeli proyek apartemen bersubsidi itu.

Pemerintah sebenarnya sudah berusaha membatasi aksi investor properti ini. Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Yusuf Asy`ari baru-baru ini mengatakan, pemerintah sudah memperketat persyaratan administratif bagi calon pemilik rusuna. Salah satu aturannya, tidak boleh memindahtangankan rusunami minimal dalam lima tahun.

“Jika itu terjadi dan ketahuan, pemilik harus mengembalikan subsidi dan pajak yang telah dibebaskan,” kata Yususf. Proses seleksi administratif dilakukan dengan ketat melalui proses Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Tapi, aturan yang sudah ada harus diberlakukan lebih ketat. Sebab, di negeri ini, semua celah dicari demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Konsistensi menjalankan aturan dari berbagai tingkatan mulai pengembang hingga perbankan jadi keharusan agar penjualan rusunami tak salah sasaran.

Diperlukan kejujuran dan keterbukaan dari semua pihak agar program mulia bagi warga berpenghasilan minim ini terlaksana dengan baik. [I3]

Ditulis oleh M Dindien Ridhotulloh ( Inilah.com )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s